|
|
|
ICEL dalam media
|
Sabtu, 01 Maret 2008 |
|
Jakarta, Kompas - Bencana ekologi di Indonesia seharusnya tidak lagi dilihat sebagai akibat dari aktivitas alam, tetapi merupakan ulah manusia. Bencana itu juga menjadi bencana demokrasi karena lemahnya tiga akses yang menjadi pilar demokrasi, yakni akses informasi, partisipasi dan keadilan dalam pengelolaan lingkungan, dan rakyat jelata harus menanggung akibatnya. Benang merah ini ditarik dari diskusi publik yang diselenggarakan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) di Jakarta, Kamis (28/2) malam, menyusul diluncurkannya hasil penelitian ICEL, ”Menutup Akses, Menuai Bencana: Potret pemenuhan akses informasi, partisipasi dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia”.
|
|
|
Sabtu, 02 Februari 2008 |
|
Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2008 tidak dimaksudkan untuk merusak hutan lindung. Peraturan tersebut justru untuk meningkatkan kontribusi kepada negara dari 13 perusahaan tambang yang sudah berada di kawasan hutan lindung. Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjawab pers seusai sidang kabinet terbatas di Kantor Departemen Kehutanan, Jakarta, Jumat (22/2). |
|
|
Senin, 27 Agustus 2007 |
|
Jakarta (ANTARA News) - Sidang pertama gugatan atas pelanggaran hak ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat korban lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur, kepada pemerintah dan Lapindo Brantas ditunda karena para tergugat tidak seluruhnya hadir.
"Karena dari enam tergugat dan satu turut tergugat hanya dua yang hadir, maka sidang ditunda hingga Kamis, 1 Februari 2007," kata Ketua Majelis Hakim, Teguh Hariyanto, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin. |
|
|
Senin, 27 Agustus 2007 |
|
MENELITI IKAN - Peneliti dari National Institute for Minamata Disease, Jepang, Mineshi Sakamoto, membelah ikan untuk mengambil sampel dan meneliti kandungan merkuri dalam ikan, di Desa Buyat Pantai, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Selasa (10/8). Pebeliti Jepang belum bisa memastikan adanya penyakit Minamata di Buyat.
|
|
|
Senin, 27 Agustus 2007 |
|
31-08-2006 Penerapan UU Money Laundering sangat bermanfaat untuk menjaring para ‘cukong-cukong’ illegal logging. Praktek pembalakan liar atau yang lebih akrab disebut illegal logging adalah masalah klasik yang dihadapi Indonesia. Puluhan tahun, Pemerintah Indonesia berjuang mencari solusi, namun upaya pemberantasan illegal logging belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Alhasil, illegal logging tetap marak terjadi, dan membawa dampak negatif tidak hanya terhadap masyarakat tetapi juga lingkungan. Berdasarkan catatan Indonesia Center for Environmental Law (ICEL), penegakkan hukum illegal logging memang cukup memprihatinkan. Sebagai gambaran, dari 1.031 kasus yang terjaring dalam operasi Wanalaga dan Wanabahari –operasi gabungan Departemen Kehutanan, Polri, dan TNI- pada tahun 2001, tidak ada satupun kasus yang dapat diproses sampai pada tingkat pengadilan. Pada tahun berikutnya, dari 971 kasus yang terjaring tidak satupun yang berlanjut ke tingkat pengadilan.
|
|
|
Senin, 27 Agustus 2007 |
|
Rabu, 10 November 2004 | 14:38 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Newmont Minahasa Raya terancam mendapat sanksi pidana korporasi terkait dengan pencemaran di Teluk Buyat, Minahasa Raya Sulawesi Utara. Hasil kajian hukum tim teknis Buyat menyimpulkan Newmont dapat dituntut atas tiga hal. Pertama, karena melanggar izin usaha yang diterbitkan oleh Departemen Pertambangan. Kedua, terkait dengan pembuangan tailing. Ketiga, tindakan Newmont dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korporasi.
|
|
|
Senin, 27 Agustus 2007 |
|
By Cecep Aminudin and Nadia Astriani, Capacity Building Division Staff, Indonesian Center for
Environmental Law. The Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) has worked for the past two years with the United Nations Development Program (UNDP) and the Ministry of Environment of Indonesia to develop and implement environmental compliance and enforcement policies in Indonesia.
|
|
|
Senin, 27 Agustus 2007 |
|
Workshop on ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution – Indonesia Has Neighbours Support to Tackle Haze Problem
Jakarta, 11 May 2007 – A recent workshop that brought together Indonesian NGOs, government officials and provincial leaders was organised by the Singapore Institute of International Affairs (SIIA) together with Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia and World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia. The workshop focused on the ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution, with the aim of engaging stakeholders in Indonesia in better understanding and determining practical implementation of the ASEAN Agreement, should it be ratified by Indonesia.
|
|
| << Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
| | Results 17 - 24 of 40 |
|
|